Beberapa saat lalu we had this little chit-chat. Para pemain dalam obrolan kali ini adalah saya, Mr. B, dan 2 additional player Mr. M dan Ms. E. Seperti biasanya, yang kami obrolin selalu ga jelas. Obrolan bisa berawal dari sebuah topik kecil, lambat laun berkembang menjadi terasa dalam dan cukup besar.
Puasa ini, sama seperti puasa-puasa sebelumnya bagi kami. Puasa yang sama di Jatinangor. Puasa yang selalu diakhiri dengan Lebaran, pulang kampung, (terpaksa) silaturahmi ma saudara-saudara. Untuk yang disebutkan terakhir saya paling protes! Saat bersilaturahmi dengan saudara-saudara adalah saat yang paling saya tunggu dari Lebaran. Saat dimana saya bisa makan dengan semangat karena masih bisa bertemu dan berfoto bersama dengan saudara-saudara saya di tahun itu. Saat dimana rasa yang hilang di tahun-tahun sebelumnya bisa kembali saya rasakan. Saat-saat yang paling saya hargai dari budaya mudik manusia Indonesia.
Hal yang kurang menyenangkan dari silaturahmi adalah jenis makanan yang sama di setiap rumah. Ketupat deui, Opor deui, Sambal Goreng Ati deui. Hoho.. Tapi tidak di rumah Ua saya. Lebaran tahun lalu Beliau spesial pesan banyak Bakso untuk hidangan tambahan, jadi kami ga bosan dengan makanan yang sama. Yang tidak enak juga mungkin ketika kita menjadi si jahat dalam keluarga dan ada si baik yang menjadi pembandingnya. Atau ketika harus susah payah meladeni para tetua keluarga yang penuh dengan bahasa ‘kuno’.
Kami berdebat mengenai penting/tidak nya extended family di luar keluarga batih. Beberapa diantara kami berargumen bahwa betapa tidak pentingnya Ua, Pakde/Bude, Om/Tante, Pa’le/Bu’le, Sepupu, dan saudara-saudara lainnya. Mereka hanya mengganggu, hanya bisa berkomentar, tidak memberikan kenyamanan sama sekali. Yaah..memang, kesal juga bila saudara jauh yang tidak tahu apa-apa merusak mood baik di hari baik dengan komentar buruk. Tapi miris kah bila kita bertemu di jalan dengan saudara yang sebenarnya kita kenal, tidak saling menyapa? Miris kah bila kita menganggap sahabat di lingkungan peer group sebagai keluarga, tapi tidak menganggap saudara yang benar-benar sedarah sebagai keluarga?
Menurut saya, nilai-nilai yang dimiliki budaya Indonesia sangat baik. Budaya Timur yang penuh dengan ramah-tamah dan kekeluargaan makin hilang dengan semakin malasnya kaum muda Indonesia bersilaturahmi. U’ll never know when u’ll really need ur family. Not even when ur nuclear family were not there to be with u. I know that it could be anyone to help u. But family will always come first.
Why don’t we just be thanked for what we have now untill we find out that it’s not there anymore?
